Senin, 3 Agustus 2009 | 06:15 WIB

ENDE, KOMPAS — Seluruh naskah tonil karya Soekarno, Presiden RI pertama, yang kini tersimpan di situs Bung Karno, Jalan Perwira, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, bukan naskah yang asli, melainkan naskah yang telah diketik oleh kawan dekat Soekarno, Ibrahim Haji Umar Sjah.

“Seluruh naskah tonil karya Bung Karno yang sekarang tersimpan di Situs Bung Karno itu bukan naskah asli, melainkan naskah yang telah diketik oleh almarhum ayah saya tahun 1960-an, kata Yusuf Ibrahim, anak Ibrahim Haji Umar Sjah,” Minggu (2/8) di Ende. Ibrahim sendiri telah meninggal tahun 1972.

Yang tersimpan di situs BK sebanyak delapan naskah tonil, yaitu “Rahasia Kelimutu”, “Rendo”, “Jula Gubi”, “KutKutbi”, “Anak Haram Jadah”, “Maha Iblis”, “Aero Dinamit”, dan “Dr Setan”. Delapan naskah tonil itu pun hanya berupa salinan.

Naskah tonil hasil ketikan Ibrahim yang asli seluruhnya telah diserahkan kepada Ketua Umum Yayasan Pendidikan Soekarno, Rahmawati Soekarno, tanggal 28 Maret 1982, di Ende.

Sementara dari sejumlah sumber, Soekarno yang mengalami pembuangan politik di Ende tahun 1934-1938 telah menghasilkan karya 12 naskah tonil, 4 naskah yang lain berjudul “Amuk” (Nggera Ende II), “Sanghai Rumba”, “Nggera Ende”, dan “Indonesia 45”, tetapi 3 naskah rupanya tercecer keberadaannya, kecuali “Indonesia 45”, menurut Yusuf, telah diberikan oleh BK kepada Natan, yang waktu itu tinggal di Kupang.

Menurut Yusuf, ayahnya di tahun 1960-an itu mengetik sendiri naskah tonil BK dengan dibantu para kawan-kawan BK yang lain untuk mengingat kembali runtutannya babak demi babak. Pasalnya ketika itu hendak digelar acara memperingati seperempat abad BK di Ende, dan akan dipentaskan.

Dari penuturan almarhum ayah saya, biasanya Bung Karno dalam mempersiapkan tonil tidak membagikan naskah, tetapi per orang atau pemain diberi lembaran kertas yang telah ditulis peran masing-masing untuk dipelajari di rumah. Naskah tonil berupa tulisan tangan Bung Karno saya sendiri belum pernah melihat. Ayah saya semasa hidup juga tidak pernah menyinggung soal naskah tonil Bung Karno yang asli, kata Yusuf.

Keberadaan naskah asli tonil karya BK itu sempat ditelusuri peneliti Yuke Ardhiati yang meninjau Situs BK, Kamis (30/7), pekan lalu.

Yuke kini sedang mengusulkan penelitian untuk program doktoral pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) dengan proposal doktoral berjudul Ruang Kultural Arsitek Soekarno sebagai Basis Perancangan Arsitektural di Indonesia. Studi Kasus: Performing Art Sandiwara Tonil dan Tarian Karya Soekarno.

Kedatangan Yuke ke Situs BK juga membawa surat dari Yayasan Bung Karno (YBK), yang ditandatangani oleh ketua umumnya, Guruh Soekarno Putra. Pihak YBK bermaksud menanyakan keberadaan naskah asli tonil itu, serta meminta salinan naskah asli tersebut guna menambah koleksi BK untuk disimpan di Perpustakaan Bung Karno.

Namun, ternyata naskah tonil yang diharapkan berupa tulisan tangan BK tidak ada di situs tersebut.

Sementara itu, Umar Gani (92), salah seorang dari sahabat BK di Ende yang hingga kini masih hidup, membenarkan apa yang dikemukakan Yusuf bahwa BK ketika melatih anggota klub tonil tidak pernah menunjukkan naskah aslinya.

“Tapi yang namanya tonil tentu ada naskahnya. Mungkin naskah yang asli itu turut dibawa atau dikirim ke Bengkulu setelah Bung Karno dipindah ke sana,” kata Umar.