Rabu, 12 Agustus 2009 | 16:41 WIB

ENDE, KOMPAS.com — Menjelang kegiatan Sail Indonesia 2009 di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang dijadwalkan pada 5 September pengawasan wilayah diperketat. Hal itu dilakukan terutama sebagai antisipasi pascapengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, Juli lalu.

“Pada prinsipnya kami tetap siaga, sebab terorisme itu bisa dilakukan kapan saja, dan di mana saja. Apalagi menjelang kegiatan Sail Indonesia yang pesertanya ratusan orang dari luar negeri. Ini rawan, sebab informasi dari media sasaran terorisme itu orang Amerika Serikat, dan secara umum bule. Padahal, bule-bule nanti yang datang ke Ende kan bukan saja orang Amerika,” kata Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Rabu (12/8) di Ende.

Menurut Don, para camat hingga kepala desa, ataupun lurah diminta lebih ketat memantau pendatang, terutama menyangkut identitas mereka, dari mana, dan tujuan apa datang ke Ende.

Secara terpisah Wakil Kepala Polres Ende Komisaris Arly Jembar Jumhana mengatakan, pihak Polres Ende saat ini memang meningkatkan kewaspadaan serta pengamanan.

Status siaga satu sejak pemilu presiden lalu sampai sekarang juga belum dicabut oleh pihak Polda NTT. Dan sejauh ini pun dari pengamatan wilayah belum ada indikasi aksi teroris.

Namun, untuk pengawasan bukan saja menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan juga elemen masyarakat seperti ketua RT dan RW. “Kami juga mengimbau segenap masyarakat pun melakukan pengawasan, terutama pada pendatang 1 x 24 jam wajib lapor ke ketua RT setempat,” kata Arly.