Kami Bangga Bisa Wakili NTT
22-Aug-2009

* Yuyun-Wilem-Viana
Oleh Anton Harus
Ende, Flores Pos

Dipilih mewakili sekolah untuk mengikuti satu perlombaan pasti mendatangkan kebanggaan luar biasa bagi seorang siswa. Sebab, hanya mereka-mereka yang berprestasilah yang dipilih, apalagi mewakili kabupaten atau Provinsi ke tingkat nasional di Jakarta.

Hanya sedikit orang yang bisa memiliki kesempatan seperti ini. Dan lebih membanggakan lagi kalau kesempatan seperti itu dimiliki oleh siswa-siswi dari sebuah sekolah yang tidak tergolong favorit. Hal ini dibuktikan oleh tiga siswa SMP Terbuka Negeri I Ende.

Sekolah yang mendidikan anak-anak dari keluarga tidak mampu ini teryata bisa membuat siswa-siswinya mencetak prestasi luar biasa. Kemampuan intelek anak-anak di sekolah terbuka itu tidak kalah dari rekan-rekanya yang sekolah di sekolah umum.

Yuyun Anggreni, siswa kelas 3 SMP Terbuka Negeri I Ende, anak dari pasangan Arif Randi dan Lily Suryanti mampu mengharumkan nama Kabupaten Ende dalam lomba motivasi belajar mandiri (Lomojari) sampai ke Jakarta.

Anak sulung dari 3 bersaudara ini mengaku prestasinya di sekolah cukup baik. Ia memilih SMP Terbuka agar bisa membantu mamanya di pagi hari.

Ia menjajakan kue untuk membantu ekonomi keluarga. Sementara sang ayah, Arif Randi, saat ini berprofesi sebagai tukang ojek di Waingapu. Meski begitu, tidak membuat semangat belajar Yuyun surut.

Bapa sering kirim uang dari Sumba, mama jualan Kue. Pagi hari saya Bantu mama. Saya beruntung karena bisa sekolah di SMP Terbuka. Selain gratis, kami juga dapat beasiswa.

Saya tidak merasa minder sekolah di SMP Terbuka. Apalagi hasilnya nanti sama dengan yang diperoleh teman-teman di SMP umum lainnya. Saya bangga sekolah di SMP Terbuka,” kata Yuyun.

Senada dengan Yuyun, Wilem dan Maria Viana Mi mengaku mendapat pengalaman baru dan indah selama ikut perlombaan di Jakarta. Keduanya merasa terhormat bisa mewakili Kabupaten Ende dan Provinsi NTT ke Jakarta.

Wilhelmus R. Juda, anak dari Robertus Ruka dan Yuliana Nipa mengaku bisa membantu orang tua dengan sekolah di SMP Terbuka. Hal serupa juga disampaikan Viana, anak pasangan Geradus Gai dan Beatrix. “Kami belum bisa berbuat banyak di Jakarta.

Kita masih butuh banyak belajar. Kita banyak kekurangan. Kita mesti terus berjuang untuk bisa bersaing dengan rekan-rekan di Pulau Jawa. Tapi terus terang, kami sungguh bangga dan berterima kasih bisa mendapat kesempatan sekolah di SMP Terbuka,” kata Wilem dan Viana serempak.*