Jumat, 11 September 2009 | 05:26 WIB

ENDE, KOMPAS.com – Beberapa waktu ini muncul hama pengorok daun yang merupakan pendatang baru di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Hama ini menyerang berbagai jenis tanaman sayuran setempat.

Kondisi demikian jika tidak cepat ditanggulangi dalam waktu beberapa tahun ke depan amat membahayakan, sebab dapat menimbulkan kerugian besar, khususnya bagi petani sayur di Ende.

Hal itu terungkap dari penelitian tim dari Fakultas Pertanian Universitas Flores (Uniflor), Ende yang diketuai Sri Wahyuni. Penelitian padahal telah dilakukan Desember 2006, akan tetapi hingga kini kemunculan hama baru itu belum di ketahui oleh pihak Dinas Pertanian Peternakan dan Tanaman Pangan Kabupaten Ende.

Waktu penelitian berlangsung tingkat kerusakan yang ditimbulkan hama ini masih di bawah 20 persen. Tapi dua bulan lalu kami survei kembali hampir seluruh komoditi sayur-sayuran terserang.

“Hama ini jika tidak ditanggulangi dalam 2 atau 3 tahun ke depan pertanian tanaman sayur-sayuran di Ende, khususnya di daerah yang terserang bisa hancur,” kata Sri Wahyuni, Kamis (10/9), di Ende.

Hama tanaman dimaksud Liriomyza spp, yang bersifat polifag, yakni dapat menyerang berbagai jenis tanaman sayuran. Di Ende ditemukan 2 jenis di dua kecamatan, yakni jenis L huidobrensis di Kecamatan Kelimutu, dan jenis lainnya L sativae di Kecamatan Detusoko.

Hama itu telah menyerang tanaman sayur kacang panjang, kacang buncis, kacang tunggak, sawi hijau, sawi putih, kubis, tomat, timun, dan kentang. Liriomyza spp merupakan pendatang di Indonesia yang berasal dari Eropa, dan mulai masuk pada awal tahun 1990-an ( Rauf, 1999). Serangan hama ini telah merugikan petani, di Indonesia setidaknya telah terjadi di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Utara, dan Bali.

“Yang rawan ketika kami menanyakan ke petani, mereka menduga bahwa tanda-tanda daun tanaman yang diserang hama ini karena penyakit. Mereka lalu menggunakan pestisida untuk membasmi penyakit. Jadi penggunaan pestisida itu tidak tepat sasaran. Pola yang keliru seperti ini justru selain merugikan lingkungan, juga akan membunuh parasitoid, agen pengendalian hayati yang sebenarnya memangsa hama ini,” kata Sri.

Pembantu Dekan Fakultas Pertanian Uniflor itu memperkirakan, Liriomyza spp bisa masuk ke Ende dimungkinkan dari bibit sayuran dari luar atau daerah yang sudah terkena hama ini. Pasalnya sayur-sayuran dari Bali juga masuk ke Ende.

Sementara itu ketika dikonfirmasi Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Tanaman Pangan Kabupaten Ende Flavianus Senda menyatakan, begitu mendapat informasi serangan hama Liriomyza spp, dirinya segera meneruskannya ke petugas pengamat hama, maupun penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk melakukan pemantauan .

“Sampai saat ini belum ada laporan dari petugas pengamat hama di lapangan menyangkut serangan hama baru ini. Saya sangat berterima kasih sekali ada temuan dari Uniflor, sehingga dapat segera diambil langkah penanggulangan yang tepat sasaran,” kata Flavianus.