Warga Numba Minum Air Pisang

Akibat krisis air yang berkepanjangan, warga Numba di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende sering minum air pisang. Hal ini sudah terjadi beberapa tahun belakangan ini.
Hal ini disampaikan salah seorang tokoh masyarakat (Mosalaki) Numba, Aloysius Wangga ketika ditemui di Desa Numba, Minggu (6/9). Dikatakan Wangga, jika pada masa musim kemarau masyarakat di Desa Numba terpaksa mengkonsumsi air dari pohon pisang karena ketiadaan sumber air bersih lainnya.

“Sumber air cukup jauh dari kampung kami sekira enam kilo meter. Itu pun debit airnya kecil sekali. Apalagi kalau musim kemarau seperti sekarang sangat kecil debitnya. Karena itu kami terpaksa mengkonsumsi air pisang,” kata Wangga.

Air dari batang pisang tersebut, kata Wangga, sudah dikonsumsi sejak beberapa tahun lalu. Caranya, jelas Wangga, dengan mengambil air dari batang pisang yang sudah ditebang dan diambil buahnya. Batang pisang tersebut, jelas Wangga, dipotong dekat pangkal dan dibuat lubang. Dalam waktu beberapa jam, dalam lubang tersebut akan terisi air. Air inilah yang digunakan untuk konsumsi. “Namun, tidak semua pisang bisa digunakan melainkan hanya pisang tertentu saja karena kualitas airnya lebih bagus,” kata Wangga.

Ia mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Ende untuk memperhatikan konsidi yang dialami warga desa tersebut. Kebetulan saat itu ada anggota DPRD Ende, Gabriel Ema sehingga ia mengharapkan anggota Dewan yang baru dilantik tersebut untuk memperjuangkan dalam pembahasan anggaran bersama pemerintah. “Sudah lama kami mengharapkan pembangunan bak penampung air bersih namun sampai sekarang belum juga terwujud,” katanya.

Ia mengatakan, tahun 2007 lalu sudah ada proyek air minum yang masuk di Desa Numba dengan anggaran sebesar Rp 250 juta. Namun airnya hanya mengalir sekali dalam minggu dan kemudian mati total. Hingga kini pipa distribusi dibiarkan begitu saja tanpa ada air yang mengalir. Apalagi, lanjut Wangga, proyek tersebut menuai banyak masalah.

“Kami kerja waktu itu dijanjikan upah Rp 10 juta namun dalam perjalanan kami hanya dibayar Rp 4 juta. Tidak tahu yang Rp 6 juta itu kemana. Karena itu kami tidak lanjutkan lagi pengerjaan proyek itu. Dan sampai sekarang pipa-pipa yang seharusnya ditanam empat puluh centimeter dalam tanah dibiarkan di atas permukaan tanah,” demikian Hendrikus Rey, salah seorang pekerja yang ikut mengerjakan proyek air minum itu.

Sementara itu, anggota DPRD Ende, Gabriel Ema berjanji memfasilitasi pertemuan masyarakat dengan Bupati Ende untuk menyampaikan keluhan mereka mengenai kesulitan air tersebut. Ia juga berjanji untuk memperjuangkan dalam rapat-rapat di Dewan. (kr7)

Sumber : http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=36148