Sabtu, 03 Oct 2009, | 1
Satu Kran Air untuk 1.398 Jiwa

ENDE, Timex-Krisis air sering melanda masyarakat di Kabupaten Ende terutama saat musim kemarau. Berbagai upaya pemerintah untuk melayani kebutuhan masyarakat sudah sering dilaksanaan. Namun, masih ada wilayah yang kekurangan air bersih.

Seperti yang terjadi di Desa Borokanda, Kecamatan Ende Utara dimana sekira 1.398 warga antri berjam-jam guna mendapatkan pelayanan air minum dari satu kran air.

Pantauan koran ini Jumad (2/10) di Desa Borokanda, tampak antrian ratusan jirigen air berjejer di kran air tersebut. Warga dengan tertib mengantri untuk mengisi air di dalam jirigen masing-masing. Pemandangan ini berlangsung setiap hari.

Warga mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Kepala Desa Borokanda, Mustafar Haji menjelaskan, krisis air minum ini terjdai sejak tahun 1993 lalu. Menurutnya, sebelum gempa mengguncang Flores masyarakat berkelimpahan air. Namun, setelah gempa dasyat 1992 silam, instalasi perpipaan maupun debit air mengalami penurunan drastis.

“Dahulu ada 16 pipa kran, tetapi sekarang tinggal dua yakni satu di Mesjid yang digunakan untuk Wudhu dan satu lagi di Dusun Brai Wena untuk umum. Warga dilarang untuk mandi di kran ini. Meski demikian masih ada dua sumur yang kadar garamnya tinggi sehingga dapat digunakan untuk mandi dan cuci,” kata Mustafar.

Ia mengatakan, petugas dari dinas teknis propinsi sudah pernah mengukur dan melakukan survei lokasi. Informasi yang diperolehnya, kata Mustafar, diperkirakan dibutuhkan dana sekira Rp700 juta untuk pegadaan air minum ini.

Seorang warga, Hamziah yang ditemui saat mengantri air mengatakan, setiap harinya ia mengantri untuk mengisi air di jerigen. Dalam sehari, katanya, paling kurang delapan jerigen diisinya untuk. Hamziah yang mengaku tinggal di Dusun Brai Atas yang berjarak sekira 800 meter dari kran air itu mengatakan jika musim panas maka debit air sangat kecil sehingga antrian sangat lama.

Sementara itu Bajo, merasa masih beruntung karena memiliki kendaraan bermotor. Ia mengatakan mengangkut air dengan menggunana sepeda motornya. “Saya pakai sepeda motor sehingga bisa angkut sampai 20 jerigen dalam sehari,” katanya. Untuk mandi dan cuci, katanya, di kali Nangaba yang berjarak sekira dua kilometer dari kediamannya. (kr7)