Pendamping Penyandang Cacat Dapat Pelatihan RBM
17-Oct-2009

Oleh Yusvina Nona
Ende, Flores Pos

Pendamping penyandang cacat di 11 desa dampingan belum lama ini mendapat pelatihan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RMB). Pelatihan ini untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang konsep RBM, meningkatkan pengetahuan peserta mengenai beberapa strategi dalam RBM dan pentingnya kerjasama masing-masing pihak dan memberikan pengetahuan tentang kecacatan pada umumnya, perilaku dan perspektif masyarakat terhadap penyandang cacat.

Demikian kata Koordinator Program Difable FIRD Ende, Mersy Bhara kepada Flores Pos di Kantor FIRD Jalan Kokos Raya, Kamis (1/10).Pelatihan ini, demikian Mersy, dihadiri lebih dari 50 peserta utusan Community Organizer dan para penggerak komunitas di 11 desa dampingan serta para fasilitator kawasan Ndetundora, Wolowaru dan kawasan Lio Timur.

Pendampingan penyandang cacat ini penting, kata Mersy, karena selama ini masyarakat menganggap kecacatan itu tabu untuk dibicarakan dan tidak perlu menjadi perhatian. Bagi masyarakat kebanyakan, berbicara tentang kecacatan hanya buang-buang waktu saja. Hanya membawa rasa malu kepada keluarga.

“Itulah beberapa lontaran kata-kata dan pandangan masyarakat tentang penyandang cacat. Pandangan seperti inilah yang menimbulkan sikap apatis dan tidak peduli dari orang tua, teman-teman sebaya, tetangga, maupun komunitas dimana mereka berada.” Akibat pandangan seperti itu, lanjutnya, penyandang cacat disembunyikan, tidak diberi kesempatan untuk bebas bergerak, tidak dilibatkan dalam kegitan di masyarakat.

Para penyandang cacat tidak mendapatkan pendidikan hal mana merupakan sikap diskriminasi yang menyebabkan anak penyandang cacat tidak dapat belajar mengenal diri, sosial kemasyarakatan, dunia di luar dirinya dan tidak dapat belajar hidup mandiri. Kenyataan lain, lanjut Mersy, keluarga ataupun masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk membimbing secara praktis, membantu agar penyandang cacat itu mudah melakukan aktivitas kesehariannya.

Anak yang buta selalu disuap, yang tidak dapat jalan selalu dibantu dengan membimbingnya sampai ke tujuan, yang bisu tidak diajarkan untuk mengucapkan kata-kata. Para penyandang cacat akhirnya hidup dengan pengetahuan yang amat rendah.

Dikatakan Mersy, rehabilitasi berbasis masyarakat merupakan salah satu pendekatan pelayanan bagi penyandang cacat yang melibatkan seluruh komponen dalam masyarakat yakni penyandang cacat itu sendiri, keluarga, ahli kesehatan, pelayanan pendidikan, ketrampilan kerja dan sosial yang secara bersama-sama mengembangkan rehabilitasi, persamaan kesempatan dan integrasi sosial kepada penyandang cacat.

“Penting juga memikirkan bahwa kecacatan itu merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri. Masyarakat dilibatkan secara aktif, memberi kontribusi waktu dan usaha, motivasi demi terciptanya suatu perkembangan dan perubahan pada penyandang cacat. Cintailah mereka yang cacat, bangunlah dari apa yang dipunyai dan berikan harapan kepadanya untuk selalu bersemangat. Semua tanggung jawab tersebut tidak dapat diberikan kepada orang lain yang berada jauh di luar lingkungan masyarakat tempat anak cacat itu hidup, “harapnya.

Bertianus Gawi seorang peserta yang juga ditemui di Kantor FIRD mengatakan pelatihan peningkatakan kapasitas bagi petugas di lapangan seperti ini diharapkan dilakukan secara berkesinambungan agar pengetahuan para pendamping makin hari makin baik. Kepada para pendamping lapangan, Bertianus berharap ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini mampu diterapkan secara baik di lapangan.

Menurut Bertianus, kesulitan yang dihadapi selama masa pendampingan antara lain sulitnya membuka pola pikir masyarakat umumnya dan khususnya orangtua penyandang cacat karena menurut mereka para penyandang cacat adalah orang yang tidak punya kemampuan apa-apa dan hanya berharap pada pertolongan orang lain.

Selain itu, katanya, para penyandang cacat dijauhi dari lingkungan karena pandangan yang telah menjadi budaya bahwa penyandang cacat itu adalah penyakit kutukan atau turunan. “Kami memang agak kesulitan berhadapan dengan orang tua dan para penyandang cacat karena kami sama sekali awam dalam mengurus perbedaan kemampuan tersebut.

Namun berkat dukungan dan perhatian dari berbagai pihak. Tapi, akhirnya semua ini bisa berjalan baik meski hasilnya belum seindah apa yang diharapkan,” katanya.