Jumat, 06 Nov 2009, | 14
Pingsan di Pengadilan Ende

ENDE, Timex – Setelah terjadi kasus pemukulan terhadap hakim anggota, Ronald Masang oleh salah seorang oknum pengunjung, Kamis (5/11) Pengadilan Negeri Ende kembali menggelar perkara yang sama.
Perkara yang digelar merupakan yang kedua setelah yang pertama beberapa hari lalu ditunda akibat kasus pemukulan terhadap terdakwa dan hakim Masang. Dengan penjagaan ketat dari aparat kepolisian, sidang kemarin dengan agenda mendengarkan kesaksian korban DP dan keponakan terdakwa, Maria Yosephina Kurnia. Sidang dipimpin Marulak Purba dan didampingi Ronald Masang.

Dalam sidang tersebut didengar kronologis kejadian dan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), M Blegur terhadap terdakwa Moris dan kesaksian korban DP. Saksi korban DP ketika dimintai majelis untuk mengurai kronologis kejadian yang menimpa dirinya menjelaskan, berawal dari SMS yang diterima dari Moris yang adalah gurunya pada malam hari sekira pukul 22.00 Wita.

Ketika itu, dirinya sedang belajar di rumah. Ia diminta bertemu dengan Moris di depan SMA Muhammadiyah Ende. Entah bagaimana, dia menuruti saja kemauan gurunya.

“Saya kemudian di bawa ke jalan Anggrek di rumah keponakannya. Saya sepertinya mengikuti saja permintaan Moris. Tak tahu saya sebelumnya disuruh membawa dengan pakaian yang diisi dalam tas plastik. Di jalan Anggrek kemudian bersama Rini keponakannya memakai travel menuju Maumere. Saya seperti terhipnotis untuk terus mengikutinya,” kata DP.

Mereka sempat tidur di hotel Benggoan. Bertiga mereka tidur satu ranjang. Paginya terjadi hubungan suami istri, ketika itu keponaannya tidak berada karena disuruh untuk membeli tiket.
Dalam pernyataan tidak dibantah terdakwa. Sementara, Maria Yosefina Kurnia alias Rini yang adalah keponaan Moris dalam persidangan memberikan kesaksian yang berbelit-belit yang membuat berang majelis hakim.

Dia menyangkal ketika dikonfrontir tentang uang yang diberikan Moris sejumlah Rp 2,6 juta untuk pembelian tiket. Dirinya merasa tidak ada suruhan kepada dirinya untuk membeli tiket meski dalam pemeriksaan awal korban dan terdakwa mengaku bahwa uang yang diberikan untuk pembelian tiket.

Sementara itu, sidang sempat tertutup untuk umum ketika memasuki pertanyaan yang lebih spesifikasi berkaitan dengan adegan yang diperankan sebagai suami istri karena keberatan dan pemintaan korban. Kejadian yang memprihatinkan ketika saksi korban berteriak di halaman gedung pengadilan untuk menghukum terdakwa seberat-beratnya.

Teriakan histeris membuat para pegawai berlarian keluar ruangan kantor. Terlihat korban sepertinya sangat depresi akibat kasus yang menimpa dirinya. Yang pada akhirnya pingsan ketika hendak dipulang ke rumah.

Untuk diketahui, majelis hakim akhirnya memutuskan untuk menunda sidang pekan depan untuk mendengar kesaksian berikutnya yaitu dari Martinus Karo yang adalah Opa dari DP dan Hendrikus Sengi yang adalah kepala SMAN 2 Ende.

Sementara, JPU M Blegur ketika ditanya hukuman yang bisa diterapkan pada terdakwa mengatakan, akan mengenakan Pasal 332 ayat (1) dan (2) dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara sebagai dakwaan primer dan subsider dengan hukuman tujuh tahun penjara. Tetapi itu katanya, masih menungu keterangan lanjutan dari saksi-saksi lainnya baru bisa dengan pasti menerapakan pasal berapa yang akan dikenakan pada terdakwa. (kr7)