Sabtu, 7 November 2009 | 08:24 WITA

ENDE, POS-KUPANG.COM — Gedung SMAN Maurole yang terletak di Maurole, Ibukota Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, sejak dibangun tahun 2008 hingga saat ini belum dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan mengajar (KBM). Proses KBM dilakukan di gedung SMPN Maurole, sedangkan gedung SMAN dibiarkan kosong.

Anggota DPRD Ende, Efraim Bellarminus Ngaga, S.Fil mengatakan itu kepada Pos Kupang di gedung DPRD Ende, Jumat (6/11/2009).

Dia mengatakan, alasan belum dimanfaatkan gedung SMAN Maurole dikarenakan hingga saat ini sekolah tersebut belum tersedia kursi-meja bagi siswa dan papan tulis. Keadaan ini praktis membuat proses belajar mengajar tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ende terkait kebutuhan mebeler di SMAN Maurole, dan dijanjikan akan didrop pada bulan Oktober dengan alokasi dana Rp 40 juta. Namun hingga memasuki bulan November belum dikirim juga,” kata Efraim.

Ia berharap Dinas PPO Ende segera mengirimkan mebelair berupa kursi dan meja ke SMA itu agar proses belajar mengajar dapat berjalan di sekolah itu.

Menurut Efraim, SMAN Maurole telah ada sejak tahun 2006 namun gedung sekolah baru dibangun tahun 2008. Sejak didirikan tahun 2006 manajemen sekolah itu masih menumpang di SMPN Maurole.

Dijelaskannya, gedung yang dibangun tahun 2008 kondisinya belum terlalu layak menjadi sebuah gedung sekolah seperti yang diharapkan karena fisik bangunan berupa 5 unit belum dilengkapi plafon, jendela serta dinding masih berupa plesteran kasar. Dana untuk pembangunan gedung SMAN ini bersumber dari APBD Ende tahun 2008 sebanyak Rp 430 juta.

Efraim yang juga mantan guru SMAN Maurole, mengatakan dalam rencana pembangunan SMAN Maurole tahun 2008 akan dibangun dua unit ruangan. Namun atas persetujuan kepala sekolah dan komite maka dibangun hingga 5 ruangan.

“Tidak terlalu masalah dengan kondisi bangunan sekolah karena siswa bisa memanfaatkan gedung yang ada. Namun yang menjadi masalah belum tersedianya mebelair sehingga tidak mungkin siswa duduk di lantai,” kata Efraim.

Menurutnya, untuk merampungkan pembangunan gedung SMAN Maurole setidaknya membutuhkan tambahan biaya dari pemerintah Rp 1 miliar. Diharapkan tahun 2010 dapat terakomodir.

Pengalamannya ketika menjadi guru di SMAN Maurole, kata Efraim, ia mendapati siswa SMAN Maurole menumpang di gedung SMPN Maurole namun KBM dilakukan siang hari ketika siswa SMPN Maurole ke luar sekolah.

“Kegiatan belajar berlangsung pukul 13.00 Wita hingga pukul 17.45 Wita. Saya harap segera direalisasikan mebelair dan gedugnnya dapat dirampungkan sehingga siswa SMAN Maurole dapat segera bersekolah di gedung sendiri dan KBM bisa berlasungkan pagi hari,” kata Efraim.

Dikatakannya, meskipun masih menumpang di SMPN Maurole namun keberadaan SMAN Maurole cukup strategis karena menampung siswa dari lima kecamatan di wilayah utara Ende, yakni Maurole, Weweria, Kota Baru dan Detukeli, bahkan dari Maukaro. Diharapkan pemerintah dapat memperhatikan keberadaan sekolah tersebut (rom)