Tim Evakuasi Berhasil Keluarkan 22 Truk dari Lambung Kapal
06-Nov-2009

* Bangkai KM Nusa Damai di Pelabuhan Ipi

Jumat, 6 November 2009, Laporan: Hieronimus Bokilia

Ende, Florespos.com – Tim evakuasi bangkai KM Nusa Damai di kolam labuh Pelabuhan Ipi oleh PT Frans Burtom Internasional Indonesia telah berhasil mengeluarkan 22 truk besar, lima unit motor, dan 20 ton lempengan plat kapal. Kegiatan pembersihan lambung kapal terus dilakukan hingga memungkinkan bangkai kapal bisa diapungkan.

Penanggung Jawab lapangan PT Frans Burton Internasional Indonesia, Jadil Muhamad, kepada Flores Pos, Senin (2/11), mengatakan, untuk memperlancar kegiatan pembersihan lambung kapal ini, pihaknya telah mendatangkan alat tambahan berupa toag boat SSP 161, tongkang dan kren 50 ton.

Dikatakan, jika lambung kapal sudah bersih seluruhnya, dan untuk mempermudah dilakukan pengapungan, maka kapal terlebih dahulu dipotong.

KM Nusa Damai memiliki tiga tingkat, untuk itu dua tingkat bagian atas kapal harus dipotong terlebih dahulu. Setelah dua tingkat bagian atas dipotong baru dilakukan pengapungan.

“Untuk apungkan, toag boat sudah ada, dan kita akan tetap bekerja keras untuk geser kapal dari kolam labuh,” ungkapnya.

Diakui, pekerjaan ini mengalami banyak kendala. Namun, sejumlah kendala kecil mampu diatasi dengan baik sehingga pekerjaan dapat berjalan maksimal. Terkadang, pekerjaan bawah laut terhenti total karena cuaca yang kurang mendukung. Gelombang laut yang terjadi sangat mengganggu pekerjaan dan membuat jarak pandang di bawah permukaan air menjadi terganggu. Selain itu, kendala yang sering dialami adalah rusaknya peralatan kerja. Jika ada peralatan kerja yang rusak, maka untuk diperbaiki harus menunggu peralatan pengganti yang dipesan dari Surabaya. Terkadang, peralatan yang dipesan tidak cocok dengan alat yang rusak sehingga menghambat pekerjaan.

Namun, kata dia, sejauh ini pekerjaan evakasi dapat berjalan lancar. Kelancaran itu terutama didukung jernihnya air laut yang membuat jarak pandang cukup luas sehingga tidak membuang-buang oksigen. “Yang jelas untuk kelancaran pekerjaan ini kita butuh dukungan semua pihak terkait di Ende. Kita tetap upayakan kerja secepatnya agar pelabuhan dapat normal kembali seperti dulu. Syukur bahwa selama ini tidak ada musibah, dan para pekerja bekerja mengikuti aturan dengan baik,” katanya.

Jadil mengatakan, pelaksanaan evakuasi tidak mengganggu aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Ipi. Demikian juga, aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan tidak sampai menganggu pekerjaan evakuasi. Bahkan, kata dia, jika ada kapal penumpang seperti KM Awu pada suatu waktu masuk Ipi, mereka siap memindahkan sementara peralatan kerja untuk memberikan kesempatan dilakukannya aktivitas embarkasi dan debarkasi.

Arminus Wuni Wasa, anggota Komisi B DPRD Ende kepada Flores Pos, Kamis (5/11) mengatakan, pembersihan kolam labuh Pelabuhan Ipi itu sebenarnya tugas dari pemilik kapal. Namun hal itu diabaikan begitu saja. Menyikapi hal ini, seharusnya pemerintah pusat, melalui Dirjen Perhubungan Laut Departemen Perhubungan, mengambil sikap tegas terhadap pemilik kapal. Pemilik kapal seharusnya ditahan dan pemerintah pusat mengambil alih pelaksanaan evakuasi, namun hal itu hingga saat ini tidak terlaksana.

Pelaksanaan evakuasi oleh PT Frans Burton Internasional Indonesia, kata Wuni Wasa, sudah saatnya dievaluasi oleh pemerintah daerah. Hal itu karena waktu pelaksanaan sudah mencapai batas waktu 180 hari. Soal perpanjangan waktu pelaksanaan evakuasi, kata dia, harusnya tidak dilakukan secara sepihak, tetapi melalui pertimbangan-pertimbangan setelah dilakukan evaluasi oleh pemeritah daerah.

Apalagi, kata dia, dilihat dari perkembangan pekerjaan selama ini, sepertinya tidak ada perkembangan ke arah maju. “Kalau omong soal angkat mobil, dari dulu angkat mobil terus. Kapan kolam labuh benar-benar bersih. Itu yang ditunggu masyarakat. Dengan batas sesuai aturan, pelaksana sudah harus kosongkan kolam labuh bukan perpanjang kontrak kerja terus. Kalau begini terus sampai kapan?” tanya Wuni Wasa.

Menurut Wuni Wasa, evaluasi oleh pemerintah daerah harus dilakukan secepatnya. Dari hasil evakuasi itu, jika memang pelaksana sekarang merasa tidak mampu lagi bekerja, sebaiknya dihentikan saja. Pelaksanaan lebih baik diberikan kepada pihak yang lebih memiliki kemampuan sehingga pekerjaan dapat lebih cepat dan kolam labuh secepatnya dibersihkan agar aktivitas bisa kembali normal seperti dulu lagi.

Soal dukungan, kata dia, semua pihak tentunya akan mendukung jika pekerjaan menunjukkan adanya kemajuan. Namun, jika pekerjaan tidak mengalami kemajuan, tentu semua orang juga tidak akan memberikan dukungan.