Menyambung cerita sebelumnya, dimana kami bisa bertamasya di Istana Ratu Boko, sekarang akan saya ceritakan pengalaman di Pantai Parang Tritis. Sebetulnya tidak ada rencana sama sekali untuk ke pantai ini, selain karena sudah pernah ke sana, bingung juga menggunakan kendaraan apa ke pantai Parang Tritis. Pantai ini memang menjadi wisata andalan di provinsi DIY, khususnya Kabupaten Bantul, dan sedikit berbau mistis karena dikaitkan dengan Ratu Pantai Selatan, Ratu Kidul.

Hari Kamis, tepatnya tanggal 24 September 2009, masih dalam suasana libur lebaran, yang sebenarnya untuk beberapa instansi sudah mulai masuk kerja, saya diajak teman lama saya, yang dari Bandung, Oki bersama istrinya, untuk bertamasya di Pantai Parang Tritis. Rencana sebelumnya adalah Kaliurang. Makanya kami janjian untuk ketemu di shelter bis Trans Yogya daerah Kentungan, Ring Road Utara. Terjadi percakapan singkat, karena memang kami kurang lebih 5 tahun belum pernah ketemu, lalu kami memutuskan untuk ke pantai Parang Tritis.

Dari shelter Kentungan, kami cukup membayar Rp. 3000 untuk sampai ke Terminal Bus Giwangan, menggunakan jalur 3B yang dari Jln. Kaliurang sebelah selatan Ring Road, dengan terlebih dahulu menyinggahi Bandara Adi Sutjipto. Sesampai di Terminal Bus Giwangan, kami menanyakan ke petugas Dinas Perhubungan Prov. DIY, bis dengan trayek apa agar bisa sampai di Pantai Parang Tritis. Sesuai dengan arahan petugas, kami menaiki mini bus jurusan Yogya-Parang Tritis, yang memang cukup banyak. Tidak menunggu terlalu lama, karena memang di dalam sudah banyak penumpang (tidak tahu juga harus menunggu berapa lama seandainya kami menjadi penumpang yang pertama). Tidak berapa lama kemudian berangkatlah mini bus ini ke Pantai Parang Tritis, yang menurut supir mini bus berjarak kurang lebih 30 km, jadi memakan waktu sekitar 1,5 jam, tergantung kemacetan juga, apalagi sekarang musim liburan. Setelah melewati ring road selatan, mini bus kemudian berbelok ke arah utara, rupanya menuju ke Joteng (alias Pojok Benteng). Sampai di Pojok Benteng, Jln. Parang Tritis, mini bus ini berhenti untuk menarik tarif. Kebetulan teman saya yang bayar, buat bertiga, total Rp. 36.000,-, jadi masing-masing dikenakan biaya Rp. 12.000,-. Lumayan murah.

Setelah selesai, perjalanan kembali di lanjutkan. Di sepanjang jalan, akan disajikan pemandangan sawah, deretan perbukitan dan juga melewati beberapa tempat wisata seperti Gabusan, yang merupakan sentra penjualan barang-barang kerajinan tangan masyarakat Bantul. Juga ada beberapa obyek lainnya. Setelah kurang lebih 1,5 jam, karena memang jalanan macet, banyak kendaraan yang juga menuju ke pantai Parang Tritis, tibalah kami di pintu gerbang tempat untuk menarik karcis memasuki wilayah wisata Pantai Parang Tritis. Sebelumnya ada jembatan yang cukup panjang, seperti jembatan Kretek, dan di bawahnya ada Sungai Opak. Ini menandakan anda akan memasuki Pantai Parang Tritis. Kalau anda melihat ke sebelah kiri (dekat pintu gerbang), ada jalan yang menuju Pantai Depok, yang terkenal dengan masakan khas laut, terutama ikan. Berhubung kami menggunakan angkutan umum, jadi tidak ditarik karcis lagi, dan langsung menuju termintal Parang Tritis. Sesampai di terminal, tidak lupa kami menanyakan sampai jam berapa bis menuju ke Yogya. Dan menurut informasi dari pa’ supir, sampai jam 7 malam, jadi buat teman-teman masih bisa melihat matahari terbenam di ufuk barat. Sampai di pantai, suasana memang ramai, perut kami pun sudah mulai lapar. Cari makan dulu akhhhh…. Karena belum mengetahui tempat yang enak, maka kami pun memilih tempat makan secara acak. Karena bingung kami memesan yang biasa aja, cumi goreng dan oseng-oseng kambing. Tapi rupanya apa yang kami sangkakan terbukti, makanannya kurang memuaskan kami. Selain porsinya sedikit, rasanya juga tidak jelas :=). Setelah puas makan, mulailah sesion pemotretan, sambil berjalan menuju tebing yang ada di sebelah barat. Rupanya saat itu ada musim ubur-ubur, jadinya bagi para pelancong yang mandi harus hati-hati terkena ubur-ubur. Sangkaku ubur-ubur persis di film Sponge Bob, rupanya bentuknya kecil, dan warnanya bening. Tidak terlihat kaki-kaki yang menjuntai. Banyak yang kemudian mati akibat tersapu ombak ke pantai. Cukup lama kami berjalan-jalan di pantai, dan kira-kira jam 4 sore, kami memutuskan untuk pulang. Kami menaiki mini bus kembali jurusan Parang Tritis-Yogya. Namun ada satu yang mengganjal, dan ini berhubungan dengan tarif bus. Kalau pergi kami dikenakan tarif Rp. 12.000/orang, dan sekarang ketika pulang, kami dikenakan tarif Rp. 15.000/orang. Sudah naik rupanya, hanya dalam hitungan jam. Menurut pa’ supirnya, supir bis yang kami naiki tadi salah menerapkan tarif. Gimana ya… Tolong para petugas Dinas Perhubungan untuk menertibkan bus-bus yang menaikan tarif seenaknya saja. Ini menjadi salah satu kendala di bidang pariwisata, karena ketidakjelasan tarif angkutan. Bisa memperburuk citra juga. Tapi tidak apalah, yang penting kami sampai di Yogya dengan selamat. Akhirnya kami kembali menaiki Bus Trans Yogya dengan tarif yang pasti Rp. 3.000,- menuju tempat kami masing-masing.

Sekian cerita dari saya, semoga berguna bagi para pelancong yang akan menuju pantai Parang Tritis dengan menggunakan angkutan umum. Selamat berwisata…..