Sebelumnya saya mengucapkan Selamat Idul Fitri buat segenap rekan, sahabat, kenalan, maupun yang membaca tulisan ini, yang merayakannya. Semoga Idul Fitri tahun ini membawa suasana yang semakin mempererat tali silahturahmi diantara kita, sebagai sesama anak bangsa, bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Tentu sebagaimana Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya, acara mudik menjadi sebagai suatu budaya, yang saya kira adalah bentuk keunikan tersendiri dari bangsa Indonesia. Dimana sanak saudara yang jauh kembali ke kampung halamannya masing-masing untuk membagi kebahagiaan bersama di kampung halaman, mengunjungi orang-orang yang dicintai, terutama orang yang lebih tua. Dan tentunya siaran berita akhir-akhir ini (H-7 dan H+7) akan diwarnai dengan liputan arus mudik.

Idul Fitri tahun ini adalah Idul Fitri yang kedua bagi saya di Yogya, dan biasanya pas hari Idul Fitri saya istilahnya “mengungsi” soalnya di sekitar kos, semua pedang makanan yang biasanya ramai, akan libur. Jadinya daripada saya kelaparan, ya itu tadi “mengungsi” ke tempat simbah. Tapi tidak lama biasanya di tempat simbah, paling lama 2 hari. Untuk tahun ini, liburan Idul Fitri lumayan juga diisi dengan jalan-jalan, yang kesemuanya tidak direncanakan. Soalnya kalau direncanakan biasanya tidak jadi, makanya kadang-kadang, begitu ada ide, ya langsung jalan.

Selasa kemarin, tanggal 22 September 2009, saya bersama kakak perempuan dan adiknya ibu berekreasi ke Istana Ratu Boko. Awalnya tidak ada rencana, cuma terpancing dengan status-status teman-teman saya yang sedang berlibur ke suatu tempat. Saya berpikir, kenapa saya tidak ikutan berekreasi mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Dan kebetulan Istana Ratu Boko menjadi pilihan karena tempat ini belum pernah dikunjungi. Tempatnya sebenarnya dari Candi Prambanan tidak begitu jauh, jadi ketika teman-teman mengunjungi Candi Prambanan dan melihat ke arah selatan, di deretan bukit-bukit, akan terlihat seperti adanya bangunan, ya itulah kompleks Istana Ratu Boko. Selasa pagi, saya bersama kakak perempuan sudah siap-siap, berhubung temanya kali ini adalah liburan hemat, jadi kami menggunakan transportasi Trans Yogya, angkutan yang akhir-akhir ini sangat membantu kami yang tidak mempunyai kendaraan, terutama di malam hari. Dari shelter Trans Yogya di Kentungan, tepat jam 8, kami berangkat menuju Terminal Condong Catur untuk menjemput adiknya ibu, yang sudah menunggu disana. Kami menggunakan jalur 2B, turun di Terminal Condong Catur, menunggu beberapa menit dan jam 08.30, kami berangkat menuju Prambanan, dengan terlebih dahulu berganti bis di Bandara Adi Sutjipto. Untuk diketahui, jika dari shelter Kentungan ke Prambanan, anda bisa menggunakan jalur 3B sampai di Bandara, kemudian mengganti jalur 1B ke arah Prambanan. Yang menjadi keunggulan Trans Yogya adalah tarifnya yang cuma Rp. 3000, tapi sudah bisa sampai Prambanan. Hemat khan ….. :=).

Sampai di Prambanan, terlihat kemacetan di batas provinsi DIY dan Jawa Tengah, rupanya kemacetan terjadi pada jalur yang akan memasuki DIY, sedangkan jalur disebelahnya relatif lebih lancar. Sampai di Prambanan, kami mencoba untuk mencoba alat transportasi tradisional, yang sudah cukup lama tidak kami naiki. Terakhir kalau tidak salah ketika masih kecil. Tarifnya lumayan juga Rp. 30.000 sampai di pintu gerbang kawasan wisata. Ternyata pintu gerbangnya berada di bawah, jadi kalau mau melihat Istana Ratu Boko, teman-teman harus menaiki anak tangga yang lumayan tinggi, tapi menyehatkan jika teman-teman merasa selama ini jarang melakukan olahraga. Sampai di puncak, teman-teman akan menjumpai tempat parkir kendaraan pribadi. Tempatnya cukup sejuk. Oh ya, hampir lupa, dibawah tadi teman-teman harus membayar Rp. 15.000/orang. Kalau yang diatas, teman-teman tinggal menunjukan tiket, tapi buat teman-teman yang membayar kamera, dikenakan tambahan tarif Rp. 2000, kalau video Rp. 5000. Di tempat pemeriksaan tiket, jika teman-teman kehausan, bisa mengambil air yang disediakan oleh pengelola obyek wisata. Kawasan wisata pertama yang teman-teman jumpai adalah semacam taman, tapi ada rusa menjangan-nya. Setelah taman, teman-teman menaiki kembali sejumlah anak tangga. Dan tibalah teman-teman di pelataran Istana Ratu Boko. Gerbangnya cantik dan unik. Tidak heran jika pintu gerbang Istana ini biasa dijadikan obyek untuk pemotretan. Setelah foto-foto di pintu gerbang ini, kami menuju ke sebuah bukit yang posisinya lebih tinggi, ke sebelah kiri, untuk melihat pemandangan dengan latar belakang Gunung Merapi dan Candi Prambanan.

Setelah puas melihat pemandangan dari bukit ini, kami kembali turun ke pelataran Istana. Kami mengira hanya disekitar pintu gerbang Istana bangunannya, ternyata masih ada di sisi selatan. Kami tertarik membaca petunjuk arah yang menunjuk ke arah Keputren. Langsung saja menuju kesana. Ternyata disana terdapat beberapa bangunan yang menarik, termasuk miniatur candi, tempat pemandian dan ada bangunan yang saya pernah melihat di televisi yang digunakan untuk pertunjukan. Kami istirahat sejenak di tempat ini. Dari kejauhan kami bisa melihat bangunan candi lainnya di seberang bukit. Rupanya di sekitar situs Istana Ratu Boko ini terdapat beberapa candi. Setelah puas melihat kompleks Keputren, kami kembali ke area parkir. Tidak lupa minum dulu, rupanya ada teh hangat juga. Berhubung sudah jam makan siang, kami mulai menghabiskan bekal yang kami bawa dari rumah dan makan siang di tempat yang cukup teduh buat kami menyantap makanan. Betul-betul liburan yang hemat. Sehabis makan siang, kami kembali menuruni anak tangga menuju pintu keluar. Sampai di jalan, kami kesulitan mendapatkan angkutan untuk kembali ke terminal Prambanan. Kami menanyakan ke warga yang ada disekitar, memang ada angkutan ke Terminal Prambanan, cuma jarang, dan kalau menunggu akan memakan waktu yang lama, dan kami disarankan untuk berjalan kaki, katanya sich “dekat”. Lalu kami mencoba jalan kaki, tapi rupanya jauh juga, untuk tidak lama kemudian ada angkutan umum. Tarifnya Rp. 3000/orang ke Terminal Prambanan. Untung …. Sampai di terminal Prambanan, kami menggunakan angkutan jurusan Prambanan – Jombor. Berhubung kos kami di sekitar Jalan Kaliurang, yang juga dilewati angkutan ini. Lumayan murah Rp. 7500/orang sampai di Jalan Kaliurang.

Betul-betul capai. Mana pusing. Tapi menyenangkan. Ternyata Yogyakarta punya sejumlah tempat menarik, jadi bukan cuma Malioboro. Liburan ke Istana Ratu Boko serasa jadi backpacker. Ayo, siapa yang mau mencoba…. Daripada bengong di kos atau di rumah, manfaatkan tempat-tempat wisata di sekitar teman-teman. Selain murah, secara tidak langsung teman-teman bisa mengetahui budaya sendiri dan menyumbang untuk pembangunan di daerah. Berikutnya akan saya ceritakan pengalaman di Pantai Parang Tritis. Ditunggu ya …..